Assalammualaikum Wr Wb
Pagiku penuh harapan, Siangku penuh senyuman, Malamku penuh kenangan.
Hay Gayss (pake gayanya Mbak Junika…. hehehe)… Pernah nggak suka sama seseorang… sukaaa banget. Bisa dibilang, “Tiada saat tanpa memikirkannya” dan ada pernyataan unik “Separuh hatiku untuknya” hahaha ketawa dalam hati kalau ada orang bilang ini. Coba pikir pake logika aja dulu, jika separuh hati kita untuk dia (orang yang di suka) terus hati yang separuh lagi buat siapa? orang tua? kalau buat orang tua berarti kita nggak punya hati dong? kalau buat kita sendiri, berarti dalam hati kita nggak ada orang tua dong (muter”….. hehehe). Kayaknya sudah cukup pemanasan jarinya, dan apa yang kalian baca ini tak ada hubungannya dengan tulisan kali ini…. 
Langkah kecil meniti jalan penuh duri tanpa adanya ruas untuk di pilih sambil merintih menatap langit di bawah mentari yang bersembunyi dalam tumpukan awan kecil penuh simpati meneteskan airnya hingga membasahi diri yang tertusuk duri yang tertanam dalam tanpa bisa dicabut lagi. Ini apaan…? nggak jelas….(pasti pada bilang gitu….
). Dalam pemikiranku banyak hal yang tak munkin ku jelaskan lewat tulisan, perkataan, gambaran bahkan mungkin anganku sendiri tak sampai untuk mengerti caraku berpikir sendiri. Hingga kini, jujur aku tak mengerti diriku sendiri, padahal… inget…. PADAHAL “dasar dalam pengendalian adalah pengendalian atas dirinya sendiri”. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan bahwa aku sendiripun tak mengerti caraku berpikir yang kadang juga mengagetkanku. Aku punya prinsip yang kadang bertentangan dengan apa yang biasa orang pikirkan, terkadang aku tahu bagaimana seseorang akan menjawab ketika mendapat pertanyaan namun aku tak mau menjawabnya, aku lebih suka mencari jawaban lain dari sisi yang terkadang orang melupakannya.
Apakah kalian percaya, “Pertanyaan itu, lebih dasar lebih sulit”. Andaikan kita mau ngadain kegiatan, kita pasti sudah punya bayangan kegiatan itu, bahkan hitungan dananya sangat matang. Tapi ketika ditanya, “Dasar ngadain acara ini apa? kenapa acarnya seperti ini? Dampaknya buat diri sendiri, bangsa, masyarakat dan lingkungan sekitarnya apa? terus andaikan dana segitu dipakai untuk acara yang lebih bermanfaat lainnya apa nggak lebih bermanfaat?”. Oh iya, jadi inget pertanyaan Ibu Sri Mulyani. “Apa dampak seorang penjual es cendol pinggir jalan pada perekonomian Indonesia dan nilai rupiah pada bank dunia?”….. hahaha…. 
Ada dalam pikiran saya, bagaimana negeri ini akan maju jika masyarakat dan pemerintahnya nggak sejalan. Pemerintah memberi instruksi untuk membuang sampah pada tempatnya, namun apa yang terjadi? Sampah berserakan bahkan numpuk bagaikan bukit. Bahkan ada sebuah opini, Mereka raja di negeri sendiri, tapi jadi pengecut di negeri orang. Pernah seorang guru bilang padaku, “Orang Indonesia kalau ke Singapura, kayak kelinci masuk kandang singa… Deg-deg’an karena takut ditangkap karena ngelanggar aturan di sana”. Bahkan untuk membuang sampah yang biasanya waktu di Indonesia mereka melakukannya di sembarang tempat seperti orang tanpa salah, di negara berlambangkan Singa itu mereka diliputi penuh ketakutan.
Sungguh mencengangkan ketika melihat masyarakat bangsa ini takut dengan aturan negara lain daripada negara sendiri. Ini yang salah masyarakatnya atau kurang ada ketegasan dari beberapa lapisan negara ini yang mengakibatkan ke tidak patuhan masyarakatnya. Apa ada dari elemen pemangku jabatan di negara ini menegur dengan keras para pelanggar aturan yang kecil. Misalnya buang sampah sembarangan. sungguh miris melihat masyarakat mendidik anak – anak mereka secara langsung dengan tindakan yang sebenarnya tak patut ditiru (buang sampah, minta – minta, ngamen, berutang, atau bahkan ada pula orang tua yang ngerokok di depan anaknya. Menurut kalian, mereka Mendidik untuk sesuatu yang benar atau membentuk karakter buruk bagi penerus bangsa yang akan meruntuhkan karakter bangsa ini?
#Mikir
Wassalammualaikum
Comments
Post a Comment